Jadi guru, siapa takut!

JADI GURU, SIAPA TAKUT! 


       “Pahlawan tanpa tanda jasa”

    Sobat, tau gak nih siapa coba yang ada di balik slogan itu? Ya, siapa lagi kalau bukan guru. Profesi mulia, pencetak peradaban bangsa.

   Guru merupakan sosok utama dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Baik dari segi ilmu pengetahuan, hingga luhurnya kepribadian. Masyaallah.

    Namun, Sob. Fakta hari ini menunjukkan, bahwa jumlah guru yang ada sangat tidak seberapa. Jauh, dan tidak sebanding dengan kebutuhan tenaga pendidik, khususnya di beberapa wilayah Indonesia.  Hal tersebut karena dari tahun ke tahun, guru yang pensiun lebih banyak jumlahnya dari guru yang diangkat kembali.

    Meskipun sebenarnya ada lowongan guru sebagai honorer. Namun, nyatanya, banyak alumni jurusan guru yang seolah tidak tertarik, dan memilih profesi lain. Why?

    Wajar sih, karena sebagaimana kita tau. Profesi guru era ini, bukanlah suatu profesi yang banyak diminati lagi. Terlebih jika hanya menjadi tenaga honorer. 

     Profesi dengan status ini telah dipandang sebelah mata. Pasalnya, dari segi kesejahteraan, sungguh jauh dari kata terjamin. Gaji enggak seberapa.

    Tanggung jawab yang berat. Ditambah dengan waktu gajiannya yang tidak bisa dikira-kira. Bikin ga semangat jadi guru, ya?

    Cita-cita millenial saat ini pun terbelokkan. Guru dulu sering banget menjadi pilihan, saat wali kelas bertanya apa yang dicita-citakan. 

    Namun kini, bahkan lebih banyak yang memiliki impian menjadi seorang youtuber, tiktoker, dan lainnya yang jelas praktis bisa menghasilkan cuan.

    Untung kalau konten yang dibuat ialah yang bermanfaat bagi kehidupan. Parahnya nih, justru banyak juga yang asal-asalan. Tanpa manfaat, juga bahkan tak mempedulikan lagi nilai kesopanan, Nauzubillah.   

    Yang ada di benak mereka, konten tersebut bisa viral, dengan penonton ribuan hingga jutaan. Balik lagi, tujuannya ialah cuan dan kepuasan.

    Bikin geleng-geleng kepala enggak, Sob?

    Padahal, kita sebagai generasi milenial ialah estafet perjuangan. Baik buruknya peradaban, tergantung kita.Maka, wajib banget saat ini kita mulai bersiap mengambil peran. Berusaha menjadi generasi cerdas dan berakhlak. 

    Semoga ke depannya, kita jugalah yang berkesempatan membentuk peradaban. Berkontribusi mencerdaskan anak bangsa. Demi kemajuan negara tercinta. Kita pun bersiap mengawal moral generasi millenial dari rusaknya nilai kebebasan. Demi tegaknya kehidupan yang gemilang.

    Kita juga tau bukan, bahwa menjadi guru itu ialah salah satu jalan untuk mendapatkan pahala yang tak ada putusnya? Meski kita sudah tidak berada lagi di dunia ini. Ilmu yang kita ajarkan, pahalanya masih saja mengalir. Mau banget dong, ya?

    Rasulullah saw. pun bersabda, “Apabila manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga. Yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh yang berdoa baginya.”

(Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dalam HR. Imam Muslim)

     So, walau saat ini menjadi guru banyak tantangannya. Tak seberapa pendapatannya. Namun tak perlu takut, bukankah Allah berjanji akan mencukupkan rezeki kita?

    Saatnya kita di garda terdepan, menjadi guru dan menyambut lahirnya generasi membanggakan.

  

  Sumber: https://lensamedianews.com/2022/11/03/jadi-guru-siapa-takut (Nadya Ambarwanti, dari Smk Muhammadiyah Ulujami)