Menjadi Pustakawan Milenial


Generasi milenial saat ini dikenal sebagai generasi paling populer. William Strauss dan Neil pertama kali menciptakan istilah `milenial’ dalam buku mereka tahun 2000 `Millennials Rising The Greatest Generation to Come’ Istilah ini pertama kali muncul pada tahun 1987, ketika anak-anak kelahiran tahun 1982 mulai masuk prasekolah. Ketika mereka lulus SMA pada tahun 2000, mereka disebut sebagai grup yang terkait dengan milenium baru.

Di negeri Paman Sam, berbagai media cetak mulai mengenal dan mempopulerkan istilah `Generasi Y’ bagi generasi milenial pada Agustus 1993.

Generasi Y sangat pragmatis dalam mencari solusi masalah, sangat menghargai perbedaan, dan lebih memilih untuk berkolaborasi daripada mengikuti perintah. Pandangan positif, fokus pada pencapaian, kepercayaan diri, kepercayaan pada nilai-nilai sosial dan moral.

Generasi Y ditandai dengan mampu mengikuti kemajuan teknologi, lebih terbuka terhadap pandangan politik dan ekonomi, sangat tanggap terhadap perubahan lingkungan, memiliki pola komunikasi yang sangat terbuka, menjadi pengguna media sosial yang fanatik, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi, dan lebih peduli tentang kekayaan mereka.

Menu layanan perpustakaan apa yang tersedia untuk generasi postmillennial? Apakah ensiklopedia cetak, indeks, bibliografi, dan abstrak akan tersedia untuk generasi ini oleh pustakawan? Secara alami, kecil kemungkinan mereka akan menikmati menu pustakawan model ini.

Menu pencarian informasi internet yang lebih cepat, lengkap, dan langsung menjawab konten yang dicari, tentu akan disukai oleh generasi ini. Google adalah ensiklopedia terlengkap di dunia, memungkinkan pengguna mencari konten teks, audio, atau video.

Apakah pustakawan akan memimpin generasi ini ke arah kabinet katalog dengan katalog subjek, penulis, dan judul? Sama sekali tidak! Tradisionalis dan Generasi Baby Boom yang tidak terbiasa menggunakan teknologi hanya akan mendapat manfaat dari katalog cetak. Katalog online (OPAC) yang dapat diakses oleh komputer atau gadget melalui intranet atau internet akan membuat pustakawan lebih nyaman mengajak mereka untuk menelusurinya. Karena kebutuhan mendesak ini, perpustakaan harus menerbitkan katalog online di situs web sehingga siapa pun dapat mengaksesnya kapan saja.

Apakah perpustakaan digital akan tersedia untuk generasi Z dan Alpha oleh pustakawan? Tentu saja! Namun, itu bukan perpustakaan digital yang mematuhi standar perpustakaan cetak konvensional. Menggunakan aturan layanan buku cetak untuk buku digital itu aneh tapi benar. Mendobrak batas adalah ciri era digital. Secara alami, tampak aneh bahwa pengguna hanya dapat meminjam atau membaca dua judul dari perpustakaan digital, yang membatasi layanan untuk mereka. Lebih aneh lagi adalah situasi di mana buku digital tidak dapat diakses karena pengguna lain telah meminjamnya. Buku digital `rasa buku cetak’ adalah apa adanya.

Perpustakaan digital yang menentang model layanan perpustakaan konvensional dikenal sebagai perpustakaan digital untuk generasi Z dan Alpha. Google adalah ilustrasi perpustakaan digital yang melampaui batas untuk menjadi hiburan bagi postmillennials. Ini mengajarkan pustakawan dan semua orang yang bekerja di perpustakaan bahwa tujuan perpustakaan digital bukan untuk membangun batasan, melainkan untuk mendobraknya.

Bagaimana dengan menu buku cetak yang akan diterima oleh generasi pascamilenial ini? Apakah tidak ada kesempatan untuk dicintai oleh orang yang lahir setelah milenium? Kemungkinan tetap ada asalkan pustakawan melakukan promosi yang terorganisir dengan baik, metodis, dan meluas dengan dukungan nyata dari pejabat struktur perpustakaan. Saat membuat resensi buku untuk koleksi perpustakaan, pustakawan harus rajin tidak abstrak. Generasi pasca-milenial akan tertarik dengan temuan kajian ini jika disebarluaskan di media sosial dan diunggah ke website perpustakaan.

Internet dan buku digital melengkapi menu sajian wajib yang mencakup buku cetak di perpustakaan. Tujuan menu pelengkap bukan untuk menggantikan menu wajib. Generasi pasca-milenial kurang memiliki kedalaman pemikiran dan pemikiran instan. Mereka juga menemukan informasi dengan cepat. Pemikiran yang mendalam dapat diasah dengan membaca buku cetak.

Meskipun internet menawarkan kesenangan dan kemudahan, itu juga menghalangi pemikiran yang mendalam. Membaca buku cetak membantu kita berkonsentrasi dan mendorong pemikiran kreatif dan mendalam. Internet, di sisi lain, membuat pikiran kita mudah teralihkan karena memaksa kita untuk mengonsumsi informasi secara cepat, instan, dan masif. Kita kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi, berefleksi, dan berpikir secara mendalam karena terbiasa membaca informasi secara cepat dan cepat.

Pemegang buku tergila-gila membaca, bukan hanya tergila-gila membuat orang membaca, seperti yang ditunjukkan oleh resensi buku yang ditulis oleh pustakawan. Apakah itu tidak benar?

(https://rembuk.republika.co.id/posts/171322/perpustakaan-pustakawan-dan-generasi-pascamileni)

Rahmah Yuni Hasanah ( SMK MUHAMMADIYAH ULUJAMI )